Jumat, 02 Mei 2014


  Umar bin Khattab

Umar bin Khattab bin Nafiel bin Abdul Uzza atau lebih dikenal dengan Umar bin Khattab (581 - November 644) (bahasa Arab:عمر ابن الخطاب) adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad S.A.W. yang juga adalah khalifah kedua Islam (634-644). Umar juga merupakan satu di antara empat orang Khalifah yang digolongkan sebagai Khalifah yang diberi petunjuk (Khulafaur Rasyidin). Umar dilahirkan di kota Mekkah dari suku Bani Adi, salah satu rumpun suku Quraisy, suku terbesar di kota Mekkah saat itu. Ayahnya bernama Khattab bin Nufail Al Shimh Al Quraisyi dan ibunya Hantamah binti Hasyim, dari marga Bani Makhzum.[2] Umar memiliki julukan yang diberikan oleh Nabi Muhammad S.A.W. yaitu Al-Faruk yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan.
Keluarga Umar tergolong dalam keluarga kelas menengah, ia bisa membaca dan menulis, yang pada masa itu merupakan sesuatu yang langka. Umar juga dikenal karena fisiknya yang kuat dimana ia menjadi juara gulat di Mekkah.
Sebelum memeluk Islam, Umar adalah orang yang sangat disegani dan dihormati oleh penduduk Mekkah, sebagaimana tradisi yang dijalankan oleh kaum jahiliyah Mekkah saat itu, Umar juga mengubur putrinya hidup-hidup sebagai bagian dari pelaksanaan adat Mekkah yang masih barbar. Setelah memeluk Islam di bawah Nabi Muhammad S.A.W., Umar dikabarkan menyesali perbuatannya dan menyadari kebodohannya saat itu sebagaimana diriwayatkan dalam satu hadits "Aku menangis ketika menggali kubur untuk putriku. Dia maju dan kemudian menyisir janggutku".
Umar juga dikenal sebagai seorang peminum berat, beberapa catatan mengatakan bahwa pada masa pra-Islam (Jahiliyyah), Umar suka meminum anggur. Setelah menjadi seorang Muslim, ia tidak menyentuh alkohol sama sekali, meskipun belum diturunkan larangan meminum khamar (yang memabukkan) secara tegas.

 

Memeluk Islam

Ketika Nabi Muhammad S.A.W. menyebarkan Islam secara terbuka di Mekkah, Umar bereaksi sangat antipati terhadapnya, beberapa catatan mengatakan bahwa kaum Muslim saat itu mengakui bahwa Umar adalah lawan yang paling mereka perhitungkan, hal ini dikarenakan Umar yang memang sudah mempunyai reputasi yang sangat baik sebagai ahli strategi perang dan seorang prajurit yang sangat tangguh pada setiap peperangan yang ia lalui. Umar juga dicatat sebagai orang yang paling banyak dan paling sering menggunakan kekuatannya untuk menyiksa pengikut Nabi Muhammad S.A.W.
Pada puncak kebenciannya terhadap ajaran Nabi Muhammad S.A.W., Umar memutuskan untuk mencoba membunuh Nabi Muhammad S.A.W., namun saat dalam perjalanannya ia bertemu dengan salah seorang pengikut Nabi Muhammad S.A.W. bernama Nu'aim bin Abdullah yang kemudian memberinya kabar bahwa saudara perempuan Umar telah memeluk Islam, ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W. yang ingin dibunuhnya saat itu. Karena berita itu, Umar terkejut dan pulang ke rumahnya dengan dengan maksud untuk menghukum adiknya, diriwayatkan bahwa Umar menjumpai saudarinya itu sedang membaca Al Qur'an surat Thoha ayat 1-8, ia semakin marah akan hal tersebut dan memukul saudarinya. Ketika melihat saudarinya berdarah oleh pukulannya ia menjadi iba, dan kemudian meminta agar bacaan tersebut dapat ia lihat, diriwayatkan Umar menjadi terguncang oleh apa yang ia baca tersebut, beberapa waktu setelah kejadian itu Umar menyatakan memeluk Islam, tentu saja hal yang selama ini selalu membelanyani membuat hampir seisi Mekkah terkejut karena seseorang yang terkenal paling keras menentang dan paling kejam dalam menyiksa para pengikut Nabi Muhammad S.A.W. kemudian memeluk ajaran yang sangat dibencinya tersebut, akibatnya Umar dikucilkan dari pergaulan Mekkah dan ia menjadi kurang atau tidak dihormati lagi oleh para petinggi Quraisy yang selama ini diketahui selalu membelanya.

Menjadi khalifah
Selama pemerintahan Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran sassanid) serta mengambil alih MesirPalestinaSyriaAfrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu ada dua negara adi daya yaitu Persia dan Romawi. Namun keduanya telah ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam dibawah pimpinan Umar.
Sejarah mencatat banyak pertempuran besar yang menjadi awal penaklukan ini. Pada pertempuran Yarmuk, yang terjadi di dekat Damaskus pada tahun 636, 20 ribu pasukan Islam mengalahkan pasukan Romawi yang mencapai 70 ribu dan mengakhiri kekuasaan Romawi di Asia Kecil bagian selatan. Pasukan Islam lainnya dalam jumlah kecil mendapatkan kemenangan atas pasukan Persia dalam jumlah yang lebih besar pada pertempuran Qadisiyyah (th 636), di dekat sungai Eufrat. Pada pertempuran itu, jenderal pasukan Islam yakni Sa`ad bin Abi Waqqas mengalahkan pasukan Sassanid dan berhasil membunuh jenderal Persia yang terkenal, Rustam Farrukhzad.
Pada tahun 637, setelah pengepungan yang lama terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut. Umar diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan diundang untuk salat di dalam gereja (Church of the Holy Sepulchre). Umar memilih untuk salat ditempat lain agar tidak membahayakan gereja tersebut. 55 tahun kemudian, Masjid Umar didirikan ditempat ia salat.
Umar melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, termasuk membangun sistem administrasi untuk daerah yang baru ditaklukkan. Ia juga memerintahkan diselenggarakannya sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Tahun 638, ia memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah. Ia juga memulai proses kodifikasi hukum Islam.
Umar dikenal dari gaya hidupnya yang sederhana, alih-alih mengadopsi gaya hidup dan penampilan para penguasa di zaman itu, ia tetap hidup sangat sederhana.
Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun ke-empat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijrah.

Kisah Umar Bin Khattab dan Seorang Yahudi Tua
Sejak menjabat gubernur, Amr bin Ash tidak lagi pergi ke medan tempur. Dia lebih sering tinggal di istana. Di depan istananya yang mewah itu ada sebidang tanah yang luas dan sebuah gubuk reyot milik seorang Yahudi tua.
“Alangkah indahnya bila di atas tanah itu berdiri sebuah mesjid,” gumam sang gubernur.
Singkat kata, Yahudi tua itu pun dipanggil menghadap sang gubernur untuk bernegosiasi. Amr bin Ash sangat kesal karena si kakek itu menolak untuk menjual tanah dan gubuknya meskipun telah ditawar lima belas kali lipat dari harga pasaran.
“Baiklah bila itu keputusanmu. Saya harap Anda tidak menyesal!” ancam sang gubernur.
Sepeninggal Yahudi tua itu, Amr bin Ash memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan surat pembongkaran. Sementara si kakek tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Dalam keputusannya terbetiklah niat untuk mengadukan kesewenang- wenangan gubernur Mesir itu pada Khalifah Umar bin Khattab.

Orang Yahudi itu pun pergi ke Madinah untuk menemui Khalifah Umar bin Khatab. Sesampainya di Madinah ia bingung di manakah letak Istana Sang Khalifah. 
“Dimanakah istana raja negeri ini?” tanya seorang Yahudi itu pada seorang lelaki.
“Lepas Dzuhur nanti beliau akan berada di tempat istirahatnya di depan masjid, dekat batang kurma itu,” jawab lelaki yang ditanya.
Dalam benak si Yahudi itu terbayang keindahan istana Khalifah. Apalagi umat Islam sedang di puncak jayanya. Tentu bangunan kerajaannya pastilah sebuah bangunan yang megah dengan dihiasi kebun kurma yang rindang tempat berteduh Khalifah.
Namun, lelaki itu tidak mendapati dalam kenyataan bangunan yang ada dalam benaknya itu. Dia jadi bingung dibuatnya. Sebab di tempat yang ditunjuk oleh lelaki yang ditanya tadi tidak ada bangunan megah yang mirip istana. Memang ada pohon kurma tetapi cuma satu batang. Di bawah pohon kurma, tampak seorang lelaki bertubuh tinggi besar memakai jubah kusam. Lelaki berjubah kusam itu tampak tidur-tiduran ayam atau mungkin juga sedang berdzikir. Yahudi itu tidak punya pilihan selain mendekati lelaki yang bersender di bawah batang kurma, “Maaf, saya ingin bertemu dengan Umar bin Khatab,” tanyanya.
Lelaki yang ditanya bangkit, “Akulah Umar bin Khatab.”
Yahudi itu terbengong-bengong, “Maksud saya Umar Sang Khalifah, pemimpin negeri ini,” katanya menegaskan.
“Ya, akulah Khalifah pemimpin negeri ini,” kata Umar bin Khatab tak kalah tegas.
Mulut Yahudi itu terkunci, takjub bukan kepalang. Jelas semua itu jauh dari bayangannya. Jauh sekali kalau dibandingkan dengan para rahib Yahudi yang hidupnya serba wah. Itu baru kelas rahib, tentu akan lebih jauh lagi kalau dibandingkan dengan gaya hidup rajanya yang sudah jamak hidup dengan istana serba gemerlap.
Sungguh sama sekali tidak terlintas di benaknya, ada seorang pemimpin yang kaumnya tengah berjaya, tempat istirahatnya cuma dengan menggelar selembar tikar di bawah pohon kurma beratapkan langit lagi.
“Di manakah istana tuan?” tanya Si Yahudi di antara rasa penasarannya.
Khalifah Umar bin Khatab menuding, “Kalau yang kau maksud kediamanku maka dia ada di sudut jalan itu, bangunan nomor tiga dari yang terakhir.”
“Itu? Bangunan yang kecil dan kusam?”
“Ya! Namun itu bukan istanaku. Sebab istanaku berada di dalam hati yang tentram dengan ibadah kepada Allah.” 
Yahudi itu terdiam mendengar ucapan Umar bin Khatab.
“Siapa anda dan ada perlu apa mencari saya?” tanya Umar bin Khatab. Setelah mengatur detak jantungnya karena berhadapan dengan seorang Khalifah yang tinggi besar dan penuh wibawa, Yahudi itu mengadukan kasusnya. Padahal penampilan Khalifah Umar amat sederhana untuk ukuran pemimpin yang memiliki kekuasaan begitu luas. Dia ceritakan pula bagaimana perjuangannya untuk memiliki rumah itu.
Merah padam wajah Umar begitu mendengar penuturan orang Yahudi itu.
“Masya Allah, kurang ajar sekali Amr!” kecam Umar.
“Sungguh Tuan, saya tidak mengada-ada,” Yahudi itu semakin gemetar dan kebingungan. Dan ia semakin bingung ketika Umar memintanya mengambil sepotong tulang, lalu menggores tulang itu dengan pedangnya.
“Berikan tulang ini pada Gubernurku, saudara Amr bin Ash di Mesir,” kata sang Khalifah, Al Faruq, Umar bin Khatab.
Si Yahudi itu semakin kebingungan, “Tuan, apakah Tuan tidak sedang mempermainkan saya!” ujar Yahudi itu pelan.
“Pulanglah, lakukan apa yang kukatakan.” Ucap Sang Khalifah.
Dia cemas dan mulai berpikir yang tidak-tidak. Jangan-jangan Khalifah dan Gubernur setali tiga uang, pikirnya. Di manapun, mereka yang mayoritas dan memegang kendali pasti akan menindas kelompok minoritas, begitu pikir si Yahudi. 
Sekembalinya ke Mesir si Yahudi pergi menemui Gubernur Amr bin Ash dengan membawa tulang dari Khalifah Umar bin Khatab. Yahudi itu semakin tidak mengerti dengan tingkah laku Gubernur Amr bin Ash setelah menerima sepotong tulang yang dibawanya. “Bongkar masjid itu!” teriak Amr bin Ash gemetar. Wajahnya pucat dilanda ketakutan yang amat sangat. Yahudi itu berlari keluar menuju gubuk reyotnya untuk membuktikan kesungguhan perintah Gubernur. Benar saja, sejumlah orang sudah bersiap-siap menghancurkan masjid megah yang sudah hampir jadi itu.
“Tunggu!” teriak Si Yahudi. 
“Maaf, Tuan Gubernur, tolong jelaskan perkara pelik ini. Berasal dari apakah tulang itu? Apa keistimewaan tulang itu sampai-sampai Tuan berani memutuskan untuk membongkar begitu saja bangunan yang amat mahal ini. Sungguh saya tidak mengerti!” Ucap Si Yahudi dengan wajah teramat sangat kebingungan.
Amr bin Ash memegang pundak Si Yahudi, “Tulang itu hanyalah tulang biasa, baunya pun busuk.”
“Tapi…..” sela Si Yahudi.
“Karena berisi perintah Khalifah, tulang itu menjadi sangat berarti.” Kata Gubernur Amr bin Ash.
“Ketahuilah, tulang nan busuk itu adalah peringatan bahwa berapa pun tingginya kekuasaan seseorang, ia akan menjadi tulang yang busuk jika tidak berlaku adil. Sedangkah huruf alif yang digoreskan di atas tulang itu artinya berlaku adil dan luruslah kamu pada siapapun, atau aku yang akan meluruskanmu dengan pedangku!” jelas Sang Gubernur.
“Sungguh agung ajaran agama Tuan. Sungguh, saya rela menyerahkan tanah dan gubuk itu. Dan bimbinglah saya dalam memahami ajaran Islam!” tutur si kakek itu dengan mata berkaca-kaca

Wafatnya
Umar bin Khattab dibunuh oleh Abu Lukluk (Fairuz), seorang budak yang fanatik pada saat ia akan memimpin salat Subuh. Fairuz adalah orang Persia yang masuk Islam setelah Persia  ditaklukkan  Umar.  Pembunuhan ini konon dilatarbelakangi dendam pribadi Abu Lukluk (Fairuz) terhadap Umar. Fairuz merasa sakit hati atas kekalahan Persia, yang saat itu merupakan negara adidaya, oleh Umar. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M. Setelah wafat, jabatan khalifah dipegang oleh Usman bin Affan.
Semasa Umar masih hidup Umar meninggalkan wasiat yaitu:
1.     Bila engkau menemukan cela pada seseorang dan engkau hendak mencacinya, maka cacilah dirimu. Karena celamu lebih banyak darinya.
2.     Bila engkau hendak memusuhi seseorang, maka musuhilah perutmu dahulu. Karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya terhadapmu selain perut.
3.     Bila engkau hendak memuji seseorang, pujilah Allah. Karena tiada seorang manusia pun lebih banyak dalam memberi kepadamu dan lebih santun lembut kepadamu selain Allah.
4.     Jika engkau ingin meninggalkan sesuatu, maka tinggalkanlah kesenangan dunia. Sebab apabila engkau meninggalkannya, berarti engkau terpuji.
5.     Bila engkau bersiap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk mati. Karena jika engkau tidak bersiap untuk mati, engkau akan menderita, rugi ,dan penuh penyesalan.
6.     Bila engkau ingin menuntut sesuatu, maka tuntutlah akhirat. Karena engkau tidak akan memperolehnya kecuali dengan mencarinya.


REFERENSI :

Sabtu, 26 April 2014



Membuat Biodata Menggunakan Bahasa C


Pada konsol di kuliax ketik vi namafolder.c Mengisi sebuah text editor dan juga berfungsi memasukan namafolder ke dalam sebuah direktori dan sekaligus penamaan pada program yaitu ocid dan .c adalah untuk bahasa C.
Kemudian ketik koding seperti di atas
·         #include<stdio.h> merupakan sebuah file header
·         Int main() artinya untuk tipe data integer tidak dilakukan pengulangan
·         Char nama[20],kelas[5] artinya tipe data untuk nama dan kelas adalah character nama mempunyai panjang karakter sebanyak 20 dan kelas mempunyai panjang sebanyak 5 karakter
·         Int npm tipe data untuk npm adalah integer
·         %d Membaca sebuah nilai integer decimal
·         %s Membaca sebuah data string
·         printf() : Merupakan fungsi keluaran yang paling umum digunakan untuk menampilkan informasi kelayar.
·         scanf() :digunakan untuk menginput data berupa data numerik, karakter dan string secara terformat. 
·         {  menandai awal dari badan fungsi
·         ; untuk mengakhiri stiap pernyataan/perintah
·         Tanda \n berfungsi untuk membuat sebuah baris baru.
·         Statement getchar()digunakan untuk membaca data yang bertipe karakter, penggunaan fungsi getchar harus diakhiri dengan penekanan tombol enter.
·         Statement return 0 berfungsi untuk mengembalikan nilai semula.
·         }  tanda untuk mengakhiri definisi fungsi
·         Gcc ocid.c –o ocid : ini berfungsi sebagai compiler, gcc(GNU C Compiler) prosesnya dengan mengganti namafile yang ada dengan nama baru agar mempermudah dalam proses run program.
·         ./ocid = berfungsi untuk menrunning program dan menghasilkan output dari program yang kita buat.
                          


                                                             2 PILIHAN 

            Musibah ini datang pada hari jumat tanggal 13 september 2013 ketika itu keadaan semuanya normal seperti hari – hari biasanya ayah sibuk dengan pekerjaannya saya sibuk dengan tugas kuliah & ibu sibuk dengan urusan dapur .Pada saat itu ayah saya ingin berangkat ke kantornya pada jam 11 siang tepat sebelum sholat jumat tiba-tiba saya mendengar suara ibu memanggil nama saya dari dalam rumah ketika itu saya sedang berada di dalam warung setelah mendengar panggilan ibu lantas saya masuk ke dalam rumah .Di dalam rumah saya melihat ibu saya kebingungan dengan keadaan ayah saya beliau duduk di ruang yamu dalam keadaan setengah pingsan seperti orang mengigau .Melihat keadaan ayah yang tidak seperti biasanya saya langsung meminta bantuan kepada tante saya untuk mengecek keadaan ayah tante menyarankan untuk segera dibawa kerumah sakit.Sesampainya di rumah sakit doker jaga langsung mengecek keadaan ayah setelah selesai mengecek keadaan ayah sang dokter menyarankan agar dibawa kerumah sakit yang peralatannya lebih lengkap karna di rumahh sakit itu tidak bisa menangani ayah saya .Sesuai dengan saran dokter akhirnya saya memindahkan ayah kerumah sakit yang lebih besar .Di rumah sakit yang ke dua ini pihak rumah sakit menolak untuk merawat ayah saya dengan alasan ruang UGD sudah penuh.Langsung saja saya bergegas memindahkan ayah ke rumah sakit yang ketiga Alhamdulillah sesampainnya dirumah sakit yang ketiga ayah saya langsung masuk keruangan UGD saya lihat para petugas UGD cekatan menangani ayah.Setelah selesaai di ruangan UGD para petugas langsung membawa ayah masuk keruangan rongsen untuk memeriksa keadaan kepala serta paru-parunya.Setelah melewati beberapa pemeriksaan ayah langsung masuk ke ruangan ICU untuk perawatan. 
         Pada malam hari saya & ibu serta kaka saya dipanggil perawat untuk masuk kerungan dokter yang memeriksa ayah saya sang dokter menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi pada ayah .Dokter mengatakan bahwa salah satu pembulu darah yang ada di kepala ayah ada yang pecah mendengar keterangan dokter rasa sedih langsung menghinggapi suasana hati kami, kami tidak percaya bahwa penyakit yang di derita ayah sangat serius dan berbahaya padahal pada waktu pagi hari itu ayah dalam keadaan sehat .Dokter menyarankan agar segera dilakukan tindakan operasi karena jika terlambat bias membahayakan nyawa ayah .Keesokan harinya pada hari sabtu tanggal 14 september 2013 jam 2 siang ayah masuk keruangan operasi .Diluar ruangan operasi kami mengunngu dengan harap-harap cemas tepat jam 6.30 sore ayah keluar dari ruang operasi dengan keadaan kepala sudah terbalut perban dan segera masuk keruang ICU untuk perawatan pasca operasi .Kami sekeluarag mengucapkan terima kasih kepada saudara,teman yang telah dating silih berganti untuk memberikan doa serta untuk melihat keadaan ayah .Selama 15 hari ayah dirawat di ruangan ICU tepat di hari ke15 pada pukul 7 malam dokter memanggil kami untuk memberikan penjelasan tentang keadaan ayah saya .Dokter magatakan bahwa beliau dan para anggota tim dokter yang menangani ayah sudah menyerah dengan kondisi ayah yang setiap harinya menunjukan penurunan kesehatan mendengar itu saya memohon kepada dokter agar di izinkan untuk memindahkan ayah kerumah sakit yang lain tetapi dokter mengatakan percuma rumah sakit lain tidak akan mau menerima ayah jika melihat catatan medis dari ayah yang sudah parah .
          Akhirnya saya bersama paman tidak mendengarkan perkataan dokter langsung mencari rumah sakit yang mau merawat ayah setelah sampai di rumah sakit saya mengajukan permohonan agar ayah bias dirawat dirumah sakit yang ke4 ini namun ketika pihak dokter disini melihat catatan medis ayah dokter tidak berani untuk merawat ayah karena keadaan ayah yang sudah sangat parah .Setelah mendengar penjelasan dari dokter tersebut saya dan paman kembali dengan rasa kecewa kerumah sakit tempat ayah dirawat . Pada pukul 1 malam dokter yang merawat ayah bahwa ini sudah tidak bisa di teruskan keadaan kesehatan ayah saya sudah sangat parah akhirnya dokter memberikan 2 pilihan kepada saya serta keluarga ingin ayah tetap hidup tapi dengan bantuan alat dan tidak akan bertahan lama atau ingin semuanya selesai sampai disini dokter memberikan waktu selama 30 menit untuk kami musyawarakan .Pada pukul 1.30 kami masuk keruangan dokter untuk memberikan jawaban apa yang saya pilih setelah itu kami masuk keruangan ICU disini saya diperintahkan dokter untuk melepas semua alat yang selama ini membantu ayah saya agar tetap bernapas .Dengan berat hati saya lepas semua alat tersebut secara satu persatu .Pada pukul 1.45 ayah saya pulang menghadap sang pencipta itu merupakan pilihan tersulit yang pernah saya hadapi dalam hidup saya merelakan ayah untuk pergi selamanya .Maka dari itu pesan saya sayangi & bahagiakan kedua orang tua selagi mereka masi ada kerena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan mereka di masa depan nanti.